Description slide 1 Description slide 2 Description slide 3 Description slide 4

MENYAMBUT ANAK MENIKAH, RUMAHPUN DIBEDAH

Bapak Moh. Rofii hanya seorang buruh tani. Yang digarap adalah lahan pertanian milik orang lain. Sistemnya bagi hasil dengan pemilik lahan. Itupun setelah dipotong modal, biasanya untuk bibit dan pupuk. Demikian yang dilakukan bertahun-tahun, karena memang tidak ada pekerjaan lain. Hasilnyapun variatif, kadang banyak kadang sedikit. Yang pasti beliau tetap bersyukur, toh hasilnya cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga, bahkan masih ada kelebihan untuk ditabung.

Bersama seorang istri dan dua orang anak, Bapak Moh. Rofii tinggal di RT 03 RW 03 Kelurahan Kangenan, Kecamatan Pamekasan. Anak pertama perempuan, sudah lulus sekolah menengah kejuruan sekitar dua tahun silam. Kini telah bekerja sebagai tenaga administrasi di salah satu hotel berbintang di Pamekasan. Sedang anak kedua laki-laki, masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.

Beberapa bulan yang lalu, Bapak Moh. Rofii sempat dilanda galau tingkat propinsi. Inti kegalauan terletak pada anak pertamanya, sebut saja namanya Bunga. Di satu sisi, kini Bunga sudah beranjak remaja. Sebagai gadis belia yang baru tumbuh dan berkembang, Bunga memiliki paras menarik dan alami, khas kelurahan. Bentuk tubuh proporsional, alis lentik bak Jembatan Suramadu dan kulit kuning mendekati putih (entah nurun siapa, penulis juga bingung). Dia juga supel dan murah senyum. Rasanya tak sulit untuk mengundang kumbang-kumbang untuk datang. Ditambah lagi pengalaman di tempat kerja, membantu pekerjaan di dapur, bahkan membantu pekerjaan di sawah, makin menegaskan bahwa dia sudah matang dan cukup bekal untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Dari segi usia juga sudah layak, karena Bunga sudah tidak termasuk di dalam kategori anak di bawah umur. Jadi tidak ada undang-undang yang dilanggar. Maka cepat atau lambat, akan datang pemuda yang akan menyunting.

Di sisi yang lain, kondisi rumah yang ditempati Bapak Moh. Rofii, sangat menggenaskan. Ukurannya hanya sekitar 5 m x 5 m, ditambah teras depan sekitar 1,5 m. Tidak ada ruang tidur, ruang makan, apalagi ruang keluarga. Semuanya menjadi satu. Dua buah ranjang, digunakan untuk empat orang anggota keluarga. Bapak Moh. Rofii tidur dengan anak bungsunya, sedangkan istrinya tidur dengan anak sulungnya. Di ruang itu pula terdapat TV, lemari, tempat sholat, kipas angin dan bau-baju yang digantung tidak karuan. Dinding terbuat dari gedek yang sudah berlubang. Demikian pula pintu depan dan belakangnya. Sedangkan atap genting yang sudah tua, di sokong oleh kayu-kayu lapuk. Akan selalu bocor di sana-sini, saat hujan turun. Lantaipun dibiarkan menyatu dengan bumi, tanpa perkerasan apapun.

Untuk aktivitas MCK, KM hanya berupa ruang kecil tanpa atap di belakang rumah. Dindingnya terbuat dari gedek yang juga bolong-bolong, setinggi 1,5 m. Untunglah, di belakang dan samping rumah terhampar sawah yang luas. Jadi apa bila ada yang berniat mengintip, pasti ketahuan. Lantainya berbahan bata putih yang ditata sedemikian rupa supaya tidak becek dan licin. Sedangkan untuk penampungan air menggunakan gentong bekas yang sudah berlumut.

Berjarak 5 m dibelakang kamar mandi, terdapat WC sistem down direct, atau dalam keseharian lazim disebut kakus cemplung. Sementara kondisi atap, lantai dan dinding relatif sama dengan KM. Jangankan pengantin baru, pengantin lamapun akan dan telah merasa tersiksa…

Bagaimana nanti, saat tiba waktunya Bunga akan menikah? Bagaimana jika calon menantunya berkunjung? Bagaimana nanti pas acara resepsi di rumah? Bagaimana kelak jika sudah berkeluarga? Kamar mana yang digunakan, kamar mandinya bagaimana,… dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang memenuhi kepala Bapak Moh. Rofii.

Maka, do’a setiap waktu dipanjatkan. Usaha juga ditingkatkan. Bapak Moh. Rofii semakin giat bekerja. Kulit makin legam tak dihiraukan. Semua demi bertambahnya rejeki, untuk tercapainya keinginan di hati ; memiliki rumah yang layak huni. Tentunya pula demi kebahagiaan si buah hati, yang mungkin akan menikah, sebentar lagi.

Berbelas-belas ribu bibit tembakau ditanam, pada semua lahan yang beliau pegang. Seharian waktu dihabiskan. Bahkan hingga larut malam, beliau tidak akan pulang sebelum semua tembakau tersiram. Selalu demikian setiap hari, hingga hampir tiga bulan. Bagi masyarakat Madura, tembakau memang komoditas yang sangat menjanjikan. Bahkan ada istilah “daun emas” untuk tanaman ini, karena memang mahal di pasaran.

Dan jika Allah berkehendak, tak kan ada yang mampu menolak. Alhamdulillah, harga tembakau melonjak. Petani tembakau di Madura, girang bukan kepalang. Termasuk Bapak Moh. Rofii. Setidaknya, pundi-pundi tabungannya bertambah. Makin bersyukur, manakala Bapak Moh. Rofii termasuk salah satu diantara sebelas penerima bantuan bedah rumah, di Kelurahan Kangenan.

Tekad sudah bulat. Modal tersedia, motivasi dan keyakinanpun sudah ada. Maka, the show must go on. Berbekal tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun, ditambah sedikit bantuan bahan bangunan dari pemerintah, Bapak Moh. Rofii akhirnya mampu membangun rumah yang jauh lebih layak dari sebelumnya. Ukuran induknya 6 m x 9 m, ditambah teras di depan dan samping. Kamar tidur samping juga ada. Ventilasi dan sanitasi juga sudah memenuhi syarat kelayakan ISO 3000.

Memang belum sepenuhnya selesai. Tapi setidaknya, kini Bapak Moh. Rofii dan keluarga bisa beraktivitas dan beristirahat dengan sehat dan nyaman. Dan yang pasti, beliau telah siap apabila sewaktu-waktu Bunga dipersunting oleh pujaan hatinya.

 

Pamekasan, 24 Pebruari 2019

 KARYA : DWI BUDAYANA EKA DEWANTARA, ST

JABATAN : KASI. PERUMAHAN DINAS PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN KAB. PAMEKASAN