Description slide 1 Description slide 2 Description slide 3 Description slide 4

SINERGITAS BERBUAH RUMAH BERKUALITAS

Objek cerita kali ini bergeser ke arah utara Kota Pamekasan, tepatnya di Desa Pasanggar Kecamatan Pegantenan. Jaraknya sekitar 9 km dari ibu kota Kecamatan Pegantenan. Dari pusat Kota Pamekasan kurang lebih 25 km. Berada di 330 mdpl (BPS), merupakan desa tertinggi di wilayah Kabupaten Pamekasan. 
Sebagai daerah yang terletak di dataran tinggi, perbedaan suhu udara di Desa Pasanggar cukup terasa. Pada siang hari bisa mencapai 34º C dan malam hari mencapai 25º C. Kondisi tapak hampir 70% berupa hamparan bukit kapur. Karakter tanahnya kering dan retak ketika musim panas. Sementara pada musim hujan becek dan berlumpur. Keadaan ini menyebabkan Desa Pasanggar kurang cocok untuk budidaya pertanian. Padahal, wilayah permukiman hanya 25%. Sisanya atau 75% merupakan lahan yang bisa dipergunakan untuk bercocok tanam. Namun semuanya merupakan lahan tadah hujan. Komoditas yang bisa ditanam juga tidak bisa menghasilkan keuntungan yang besar, misalnya jagung dan padi. Mungkin hanya tembakau yang sedikit bisa diharapkan. Itupun panen setahun sekali dan sangat tergantung pada curah hujan. Masih jauh dari cukup untuk dimakan sehari-hari.
Maka banyak penduduk berusia produktif yang merantau menjadi tenaga kerja. Maksudnya untuk memperbaiki perekonomian. Tujuannya mayoritas ke luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Singapura dan Arab Saudi. Juga ke kota-kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya bahkan ke Pulau Bali.
Bagi warga yang tidak merantau dan memilih bertahan, harus memiliki mata pencarian alternatif. Selain bertani tentunya. Misalnya berniaga bagi yang mempunyai modal. Bisa menyediakan jasa bagi yang mempunyai keahlian. Atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Bapak Mahfud (28) dan istrinya Ibu Holimah (27) termasuk yang memilih menetap di tanah leluhur tercinta.
Beberapa waktu yang lalu, kami berkesempatan mengunjugi rumah Bapak Mahfud. Tepatnya di Dusun Mór Lóróng. Lokasinya sekitar 3 km arah barat daya Balai Desa Pasanggar. Dekat sebenarnya, namun terasa lama karena medan yang dilalui cukup menguji nyali. Bisa disebut juga memacu adrenalin. 
Dari balai desa, perjalanan diawali dengan jalan beraspal yang rusak parah. Lanjut makadam dengan batu sebesar kepala cucu gajah. Berikutnya adalah jalan tanah. Kanan-kiri sawah. Lebarnya hanya cukup untuk kendaraan satu arah. Naik bukit, turun lembah. Sudut kemiringan hampir tujuh puluh setengah. Sekali tergelincir, jatuh deh ke bawah. Lelah…
Untunglah, kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk kendaraan yang dipergunakan, baik roda empat maupun roda dua. Untuk roda empat, alhamdulillah 4WD semua. Idealnya sih, emang Panser Anoa milik tentara. Atau Rantis milik Brimob. Tapi tidak mungkin. Kendaraan-kendaraan tersebut, terutama Rantis, belakangan ini harus sering stand by di stadion. Ketika ada pertandingan sepak bola. Sudah protap. Antisipasi, untuk mengangkut pemain dan official apabila terjadi kerusuhan. Melindungi dari amukan dan lemparan supporter lawan.
Untuk roda dua, yang digunakan adalah kendaraan milik teman-teman tentara dan polisi. Dua institusi ini memang turut berpartisipasi, personil plus kendaraannya. Ditambah kendaraan dinas plat merah. Juga beberapa milik pribadi. Semuanya CC besar dan berjenis trail. Jadi tak bikin khawatir. Apalagi milik polisi, sudah sering digunakan memburu preman atau pelaku curanmor. Di segala jenis medan.
Jangan coba-coba menggunakan kendaraan matic, apalagi bagi yang belum paham medan. Jika memaksa, itu sama saja dengan harakiri. 
Satu lagi, pelajaran yang bisa diambil selama perjalanan yang full gronjal-gronjol ini. Ibu hamil sangat tidak direkomendasikan untuk turut serta. Karena dikhawatirkan kondisi kandungan akan terganggu. Atau paling apes akan melahirkan di tengah perjalanan.
Sampai di lokasi, kami langsung disuguhi pemandangan yang mengiris hati. Rumah Bapak Mahfud dipenuhi barang-barang bekas. Seorang anak kecil hanya berkaos singlet tanpa celana, bermain debu di halaman. Seorang lagi yang lebih kecil, tidur di atas ranjang kayu. Berselimut kencangnya angin yang bertiup langsung dari sebuah kipas listrik. Tanpa celana pula. Sementara di sekelilingnya juga berserakan barang-barang bekas. Kedua anak laki-laki tersebut adalah anak-anak dari Bapak Mahfud dan Ibu Holimah. Selain bertani di lahan kecil di belakang rumahnya, mereka memang memilih menjadi pengumpul barang bekas. Apabila sudah terkumpul banyak, maka Bapak Mahfud menjualnya ke pengepul yang datang menjemput. Jika pengepul tak datang, maka barang-barang bekas yang telah banyak, ditumpuk. Karena tidak memiliki tempat khusus, maka Bapak Mahfud menumpuk di rumah. Tidak cukup di teras, ruang dalam juga. Rumah yang awalnya memang tidak seberapa luas dan tidak layak, semakin sumpek manakala dijejali tumpukan barang bekas.
Imbasnya, rumah makin tidak karuan. Barang bekas, yang notabene tempat favorit bagikuman penyakit, akan mempengaruhi kesehatan. Yang paling merasakan adalah kedua buah hatinya, Moh. Maulidi (5) dan Moh. Febrianto (2). Sebab mereka masih dalam masa pertumbuhan. Belum lagi membicarakan masalah rumahnya, dapurnya dan MCK-nya.
Selang beberapa bulan, rumah Bapak Mahfud direnovasi. Sisa bongkaran rumah lama, dijadikan tempat penyimpanan barang bekas. Letaknya terpisah dengan rumah utama. Semua terlaksana berkat kerjasama dan sinergitas antara Pemkab Pamekasan, Kodim 0826 dan Polres Pamekasan. Dukungan penuh juga diberikan oleh Kepala beserta seluruh perangkat Desa Pasanggar. Tak bisa diabaikan pula, bantuan tujuh hari tujuh malam dari warga sekitar. 
Moh. Maulidi dan Moh. Febrianto kini sudah bisa tidur dan bermain dengan sehat, aman dan nyaman. Bapak Mahfud dan Ibu Holimah juga telah memiliki kamar tidur sendiri. Hal ini sangat mendukung kecepatan, keamanan dan kelancaran. Kebetulan pasangan muda ini sedang berikhtiar. Mereka ingin menambah momongan dengan segera. Jika diijinkan oleh Allah, pengennya perempuan.
Semoga cepat terkabul.

Pamekasan, 09 Maret 2019

Foto 100% : Kodim 0826 Pamekasan

Karya : DWI BUDAYANA EKA DEWANTARA, ST

Jabatan : Kasi. Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Pamekasan